Tampilkan postingan dengan label KESMAS. Tampilkan semua postingan
Indonesia merupakan negara keempat di dunia dalam jumlah terbanyak kasus tuberkulosis (TB). Untuk itu, diperlukan peran berbagai pihak dalam pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini.
Menurut Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, Direktur Jenderal PP dan PL Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, diperlukan peran serta perhatian masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi dan mengantisipasi TB. "Masyarakat juga harus mendukung dan membantu memerhatikan TB. Harus dilakukan pencegahan dari masyarakat," ujar Prof. Tjandra pada acara Simposium Nasional World TB Day 2014 'Temukan & Sembuhkan Pasien TB' yang diselenggarakan di Menara 165, Jl. TB Simatupang 1, Jakarta Selatan, Minggu (30/3/2014).
dr Telly Kamelia, Sp.PD, FACP, FCCP, FINASIM dalam kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran bakteri TB.
Menurutnya, penularan TB sangatlah mudah karena bakteri yang dikeluarkan saat orang yang mengidap TB terbatuk, bakterinya akan keluar dan terbawa oleh angin, hingga akhirnya sangat memudahkan penularan yang terjadi.
Lantas, bagaimana cara pencegahan yang dapat dilakukan? "Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pasien TB dalam mencegah penularan. Pertama, pastinya kalau batuk itu harus ditutup. Yang kedua, tutupnya jangan pakai telapak tangan," ungkap dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) ini.
dr Telly menuturkan bahwa jika pasien TB menutup dengan tangan saat terbatuk, maka bakteri akan menempel di telapak tangan mereka. Nah, jika terjadi kontak langsung dengan orang lain, seperti melalui bersalaman, maka hal itu akan sangat mudah menularkan orang lain.
"Untuk mengatasinya, kalau batuk itu lebih baik ditutup menggunakan lengan. Karena bakteri tersebut tidak akan memberikan kontak langsung kepada orang lain," imbuhnya.
Selain itu, penting diperhatikan mengenai penggunaan tisu saat menutup batuk. dr Telly menekankan bahwa jangan membuang tisu sembarangan di tempat terbuka, karena hal tersebut akan memudahkan bakteri terbawa oleh angin.
"Keluarkanlah batuk dan dahak dengan benar, salah satunya di wadah tertutup. Dan setelah itu, segera cuci tangan dengan benar," saran dr Telly.
Jakarta, Banyak orang tua yang berusaha memberikan gizi terbaik untuk anak-anaknya. Slogan 4 sehat 5 sempurna pun menjadi acuan untuk dikonsumsi sehari-hari, dengan harapan demi memenuhi kebutuhan gizi yang tepat untuk si anak. Sayang, data yang didapat Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyatakan bahwa kurang lebih 93 persen anak-anak di Indonesia tidak cukup makan sayur-sayuran dan buah-buahan.
"Sayur dan buah itu adalah komponen penting bagi pemenuhan kebutuhan gizi. Tapi nyatanya, data malah menunjukkan bahwa jumlah anak yang kurang dalam mengonsumsi sayur dan buah, sangatlah tinggi," ujar Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Media Workshop 'Nutrisi Terjangkau untuk Membantu Penanganan Masalah Gizi Kurang pada Anak Usia Sekolah di Indonesia' dalam rangka Peringatan Hari Gizi Nasional 2014, yang diadakan di Pabrik Frisian Flag Indonesia, J. Raya Bogor, Ciracas, dan ditulis pada Kamis (27/2/2014).
Menurut Prof Hardinsyah, adanya masalah mengenai kurangnya konsumsi sayur dan buah bagi anak, sangat berdampak pada masalah pemenuhan gizi si anak. Hal ini sangat disayangkan, mengingat pemenuhan gizi yang tidak dilakukan dengan benar, akan berisiko pada penghambatan pertumbuhan anak.
Selain sayur dan buah, Prof Hardinsyah juga menganggap makanan hewani juga merupakan salah satu hal yang kurang dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia. Makanan hewani yang dimaksud Prof. Hardinsyah bukan hanya daging-daging, melainkan juga susu. Sayangnya, data juga menunjukkan bahwa konsumsi susu pada anak-anak pun memiliki angka yang rendah.
"Data menunjukkan bahwa anak pada usia 5-9 tahun banyak yang tidak minum susu. Persentasenya mencapai 60-85 persen anak yang tidak minum susu di dalam 1 hari," ungkap Sandjaja, MPH, DR.PH, ketua South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS).
Menurut Sandjaja, data tersebut bukan berarti menunjukkan bahwa tidak ada anak-anak yang mengonsumsi susu. Namun, dari sekian jumlah yang mengonsumsi susu setiap harinya, bisa dikatakan sangat sedikit yang rutin meminum susu sebanyak 3 kali dalam sehari.
"Seharusnya itu kan 3 kali sehari. Tapi nyatanya sedikit yang melakukannya. Makanya itu, anak-anak Indonesia sebagian besar konsumsi gizinya lebih rendah dari kebutuhan. Tidak heran status gizinya pun rendah," tutur Sandjaja.
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah ini? Prof Hardinsyah menjawab, "Perbanyak makan sayur dan buah. Makanan hewani juga perlu, sebagai sumber protein. Selama ini banyak orang-orang yang menjadikan beras yang paling utama, padahal sayur, buah, dan makanan hewani juga penting."
Prof Hardinsyah menyarankan perusahaan yang bertindak sebagai produsen makanan atau minuman juga untuk membantu mengatasi permasalahan ini, demi menciptakan generasi anak yang baik untuk di masa depan. "Para produsen mungkin bisa menciptakan produk yang di dalam ada kandungan gizi yang tepat demi upaya perbaikan gizi anak. Dengan begini, para orang tua bisa menjangkau pemenuhan gizi pada produk-produk yang dengan mudah si anak konsumsi," saran Prof Hardinsyah.
"Sayur dan buah itu adalah komponen penting bagi pemenuhan kebutuhan gizi. Tapi nyatanya, data malah menunjukkan bahwa jumlah anak yang kurang dalam mengonsumsi sayur dan buah, sangatlah tinggi," ujar Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Media Workshop 'Nutrisi Terjangkau untuk Membantu Penanganan Masalah Gizi Kurang pada Anak Usia Sekolah di Indonesia' dalam rangka Peringatan Hari Gizi Nasional 2014, yang diadakan di Pabrik Frisian Flag Indonesia, J. Raya Bogor, Ciracas, dan ditulis pada Kamis (27/2/2014).
Menurut Prof Hardinsyah, adanya masalah mengenai kurangnya konsumsi sayur dan buah bagi anak, sangat berdampak pada masalah pemenuhan gizi si anak. Hal ini sangat disayangkan, mengingat pemenuhan gizi yang tidak dilakukan dengan benar, akan berisiko pada penghambatan pertumbuhan anak.
Selain sayur dan buah, Prof Hardinsyah juga menganggap makanan hewani juga merupakan salah satu hal yang kurang dikonsumsi oleh anak-anak Indonesia. Makanan hewani yang dimaksud Prof. Hardinsyah bukan hanya daging-daging, melainkan juga susu. Sayangnya, data juga menunjukkan bahwa konsumsi susu pada anak-anak pun memiliki angka yang rendah.
"Data menunjukkan bahwa anak pada usia 5-9 tahun banyak yang tidak minum susu. Persentasenya mencapai 60-85 persen anak yang tidak minum susu di dalam 1 hari," ungkap Sandjaja, MPH, DR.PH, ketua South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS).
Menurut Sandjaja, data tersebut bukan berarti menunjukkan bahwa tidak ada anak-anak yang mengonsumsi susu. Namun, dari sekian jumlah yang mengonsumsi susu setiap harinya, bisa dikatakan sangat sedikit yang rutin meminum susu sebanyak 3 kali dalam sehari.
"Seharusnya itu kan 3 kali sehari. Tapi nyatanya sedikit yang melakukannya. Makanya itu, anak-anak Indonesia sebagian besar konsumsi gizinya lebih rendah dari kebutuhan. Tidak heran status gizinya pun rendah," tutur Sandjaja.
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah ini? Prof Hardinsyah menjawab, "Perbanyak makan sayur dan buah. Makanan hewani juga perlu, sebagai sumber protein. Selama ini banyak orang-orang yang menjadikan beras yang paling utama, padahal sayur, buah, dan makanan hewani juga penting."
Prof Hardinsyah menyarankan perusahaan yang bertindak sebagai produsen makanan atau minuman juga untuk membantu mengatasi permasalahan ini, demi menciptakan generasi anak yang baik untuk di masa depan. "Para produsen mungkin bisa menciptakan produk yang di dalam ada kandungan gizi yang tepat demi upaya perbaikan gizi anak. Dengan begini, para orang tua bisa menjangkau pemenuhan gizi pada produk-produk yang dengan mudah si anak konsumsi," saran Prof Hardinsyah.
sumber : health.detik.com
Laboratorium Bio Sains Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, menciptakan alat pendeteksi dini atau diagnostic kit dini penyakit diabetes mellitus (DM).
Alat yang diberi nama KIT GAD65 itu adalah alat pendeteksi pertama di Indonesia yang berhasil diciptakan para peneliti kedokteran yang mengajar di Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Ketua tim peneliti, Aulan Ni'am, menyebutkan, KIT GAD65 ini merupakan alat paling sederhana yang memiliki tingkat sensitivitas (akurasi) 100 persen dan tingkat supersitivitas sebesar 90 persen.
"Tim sudah melakukan uji pada 130 orang. Hasilnya 100 persen akurat. Tim berhasil menemukan alat tergolong susah. Saya dan tiga orang lainnya harus berjuang melahirkan alat ini," jelas Aulan, ditemui seusai acara peluncuran di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (26/2/2014).
Penelitian untuk melahirkan alat tersebut dilakukan selama 20 tahun, yang dimulai sejak 1998 dengan menghabiskan dana sekitar Rp 3,5 miliar. "Awalnya kami menggunakan hewan kelinci, tikus, setelah itu kita buat sel manusia melalui bakteri E-coli," bebernya.
Adapun cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Pertama, mengambil sampel darah pasien yang akan dites sebanyak 20 mikro. Darah tersebut lalu diteteskan pada sebuah alat pendeteksi bernama rapid test.
"Setelah diteteskan baru dikasih buffer agar darahnya bergerak di rapid test. Selanjutnya diberi signal reagent agar alat ini bekerja," ungkapnya.
Setelah diberi signal reagent, rapid test ditutup dan menunggu hasil selama 30 menit. "Pasien yang positif DM akan ditandai dengan dua garis, sedangkan yang negatif akan ditandai dengan satu garis," katanya.
Jika satu garis di bawah sendiri, kata Aulan, artinya invalid atau masih belum bisa terdeteksi. "Tak hanya untuk orang dewasa, alat ini juga bisa digunakan pada bayi yang baru lahir. Tes pada bayi ini untuk mengetahui potensi penyakit DM pada bayi akibat riwayat gen dari orangtuanya," katanya.
Kalau diambil darahnya langsung harus di atas dua tahun atau bisa juga diambil darahnya dari tali pusarnya.
Rencananya, KIT GAD65 ini akan diproduksi secara massal bekerja sama dengan PT Biofarma Tbk. Alat deteksi itu akan dibanderol dengan harga Rp 150.000 per alat.
"Karena untuk tes DM di laboratorium membutuhkan biaya minimal 150 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 juta," katanya.
Rektor UB, Yogi Sugito, menambahkan bahwa riset tersebut merupakan kontribusi yang telah dilakukan oleh pihaknya kepada masyarakat.
"UB berhasil menciptakan teknologi baru di bidang kesehatan dan ini adalah awal kebangkitan pelopor PTN di Indonesia," katanya.
Alat yang diberi nama KIT GAD65 itu adalah alat pendeteksi pertama di Indonesia yang berhasil diciptakan para peneliti kedokteran yang mengajar di Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Ketua tim peneliti, Aulan Ni'am, menyebutkan, KIT GAD65 ini merupakan alat paling sederhana yang memiliki tingkat sensitivitas (akurasi) 100 persen dan tingkat supersitivitas sebesar 90 persen.
"Tim sudah melakukan uji pada 130 orang. Hasilnya 100 persen akurat. Tim berhasil menemukan alat tergolong susah. Saya dan tiga orang lainnya harus berjuang melahirkan alat ini," jelas Aulan, ditemui seusai acara peluncuran di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (26/2/2014).
Penelitian untuk melahirkan alat tersebut dilakukan selama 20 tahun, yang dimulai sejak 1998 dengan menghabiskan dana sekitar Rp 3,5 miliar. "Awalnya kami menggunakan hewan kelinci, tikus, setelah itu kita buat sel manusia melalui bakteri E-coli," bebernya.
Adapun cara kerja alat tersebut cukup sederhana. Pertama, mengambil sampel darah pasien yang akan dites sebanyak 20 mikro. Darah tersebut lalu diteteskan pada sebuah alat pendeteksi bernama rapid test.
"Setelah diteteskan baru dikasih buffer agar darahnya bergerak di rapid test. Selanjutnya diberi signal reagent agar alat ini bekerja," ungkapnya.
Setelah diberi signal reagent, rapid test ditutup dan menunggu hasil selama 30 menit. "Pasien yang positif DM akan ditandai dengan dua garis, sedangkan yang negatif akan ditandai dengan satu garis," katanya.
Jika satu garis di bawah sendiri, kata Aulan, artinya invalid atau masih belum bisa terdeteksi. "Tak hanya untuk orang dewasa, alat ini juga bisa digunakan pada bayi yang baru lahir. Tes pada bayi ini untuk mengetahui potensi penyakit DM pada bayi akibat riwayat gen dari orangtuanya," katanya.
Kalau diambil darahnya langsung harus di atas dua tahun atau bisa juga diambil darahnya dari tali pusarnya.
Rencananya, KIT GAD65 ini akan diproduksi secara massal bekerja sama dengan PT Biofarma Tbk. Alat deteksi itu akan dibanderol dengan harga Rp 150.000 per alat.
"Karena untuk tes DM di laboratorium membutuhkan biaya minimal 150 dollar AS atau sekitar Rp 1,8 juta," katanya.
Rektor UB, Yogi Sugito, menambahkan bahwa riset tersebut merupakan kontribusi yang telah dilakukan oleh pihaknya kepada masyarakat.
"UB berhasil menciptakan teknologi baru di bidang kesehatan dan ini adalah awal kebangkitan pelopor PTN di Indonesia," katanya.
sumber : kompas.com